Teks : Nelayan di Kabupaten Kukar
Nagaraya.id, KUTAI KARTANEGARA – Upaya memperkuat sektor kelautan dan perikanan di Kutai Kartanegara memasuki babak baru. Program Kukar Idaman Terbaik yang kini mulai diimplementasikan membawa standar yang lebih tinggi, terutama dalam dukungan kepada nelayan, pembudidaya, dan pengolah hasil perikanan.
Di balik penguatan tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar menegaskan bahwa program ini merupakan lanjutan sekaligus peningkatan dari kebijakan sebelumnya. Kepala DKP Kukar, Muslik, mengatakan bahwa target fasilitasi pelaku usaha perikanan pada periode baru mengalami lompatan signifikan.
“Target itu mencakup pelaku usaha perikanan mulai dari nelayan, pembudidaya, hingga pengolah hasil perikanan. Semua diarahkan agar mereka lebih tangguh dan berdaya saing,” ujarnya pada Minggu (30/11/2025).
Pada periode RPJMD sebelumnya, pemerintah menetapkan target fasilitasi sebanyak 25 ribu penerima. Kini, melalui program Perikanan, Peternak dan Petani Tangguh, jumlah itu meningkat menjadi 100 ribu penerima, dengan sekitar 50 persen berasal dari sektor kelautan dan perikanan. Muslik menegaskan bahwa perluasan ini tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas pemberdayaan yang diberikan secara bertahap selama lima tahun.
Bantuan langsung kepada nelayan tetap menjadi prioritas. Penyediaan perahu, mesin, ketinting, dan alat tangkap disalurkan untuk memperkuat modal utama mereka melaut.
Sementara bagi pembudidaya ikan, dukungan diberikan dalam bentuk sarana produksi seperti kolam terpal, kolam jaring, kolam rumpung, kolam bioflok, serta suplai benih mulai dari benur, bandeng, udang, nener hingga rumput laut.
“Itu semua bagian dari dukungan kami untuk memperkuat ketahanan pelaku usaha perikanan. Program ini merupakan evaluasi sekaligus eskalasi dari program sebelumnya,” tambahnya.
Selain bantuan sarana produksi, DKP Kukar juga menggenjot pembangunan infrastruktur pendukung. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Anggana dan Samboja tengah diperbaiki dan ditingkatkan agar mampu menjalankan fungsi pemasaran dan distribusi secara lebih optimal. Infrastruktur skala besar lainnya, Integrated Cold Room Infrastructure (ICRI) di Muara Badak, juga kembali masuk prioritas tahun 2026 setelah sempat tertunda akibat rasionalisasi anggaran 2025.
“ICRI ini sangat penting karena menjadi bagian dari rantai dingin hasil perikanan. Saat beroperasi nanti, fasilitas ini akan sangat membantu nelayan kita,” ungkapnya.
Dorongan lain juga diberikan melalui pembangunan SPBUN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan) guna mempermudah akses bahan bakar sekaligus menekan biaya operasional. Akses energi yang lebih dekat dan terjangkau diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas nelayan di berbagai wilayah pesisir Kukar.
Dengan berbagai langkah tersebut, DKP Kukar memastikan bahwa seluruh fasilitas pendukung perikanan disiapkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun ketangguhan pelaku usaha dalam jangka panjang.
“Kami ingin seluruh fasilitas pendukung perikanan benar-benar siap dan bermanfaat bagi masyarakat. Ini untuk memastikan nelayan kita bisa semakin tangguh,” tegas Muslik.
Program ini menjadi bagian dari komitmen DKP Kukar untuk mendukung terwujudnya Kukar Idaman Terbaik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di seluruh Kutai Kartanegara. (Adv/Prokomkukar/Zii)

