Teks : Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar Ananias
Nagaraya.id, KUTAI KARTANEGARA – Upaya mengurangi pemborosan pangan di Kutai Kartanegara (Kukar) memasuki tahap baru. Pemerintah daerah tengah menyiapkan program Bank Pangan, sebuah mekanisme distribusi pangan berlebih agar makanan layak konsumsi tidak lagi terbuang percuma.
Inisiatif ini dijalankan Dinas Ketahanan Pangan Kukar setelah menemukan bahwa sekitar 16 persen pangan masyarakat terbuang di meja makan, termasuk dari rumah makan, hotel, hingga dapur umum. Sebagian besar makanan tersebut sebenarnya masih bisa dikonsumsi.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar Ananias menyebut persoalan utama muncul karena pihak rumah makan atau hotel tidak memiliki waktu untuk menyalurkan makanan berlebih, disertai kekhawatiran jika makanan yang diberikan ternyata tidak layak konsumsi.
“Selama ini pihak hotel atau rumah makan tidak punya waktu menyalurkan kelebihan makanan. Mereka juga khawatir jika pangan yang disalurkan ternyata tidak layak dan menimbulkan gangguan kesehatan,” ujarnya, pada Selasa (25/11/2025).
Untuk menjawab persoalan tersebut, dibentuklah Bank Pangan sebagai wadah koordinasi antara penyumbang pangan dan relawan penyalur. Relawan berasal dari Kelompok Wanita Tani (KWT), Ikatan Remaja Masjid, hingga mahasiswa. Mereka bertugas mengumpulkan makanan berlebih dan menyalurkannya ke panti asuhan, pondok pesantren, atau warga yang membutuhkan.
Keamanan pangan menjadi prioritas. Relawan akan dilatih mengenali batas waktu konsumsi makanan, termasuk makanan yang harus segera dikonsumsi pada hari yang sama.
“Misalnya untuk sarapan, harus dikonsumsi maksimal sampai pukul tiga sore. Kami juga siapkan kontainer makanan agar tidak merepotkan pihak hotel atau restoran,” jelas Ananias.
Sejumlah hotel, restoran, dan dapur umum telah menyatakan dukungan, di antaranya Grand Elty, Grand Fatma, Tepian Pandan, Ayam Banjar, Bebakaran, serta dapur SPPG di Panjaitan, Loa Lepu, dan Tenggarong Seberang yang setiap hari memasak ribuan porsi untuk siswa.
Dapur SPPG sendiri menghasilkan sekitar 3.000 porsi per hari, sehingga potensi pangan berlebih cukup besar.
“Pasti ada kelebihan, dan inilah yang akan kita manfaatkan untuk disalurkan. Tapi tentu makanan yang rawan rusak seperti berkuah akan dihindari,” lanjutnya.
Program Bank Pangan menjadi bagian dari dedikasi pembangunan Kukar dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan. Ananias menegaskan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup, pengurangan pemborosan juga diperlukan agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga. (Adv/Prokomkukar/Zii)
Infografis: Program Bank Pangan Kukar
Tujuan Utama
• Mengurangi pemborosan makanan layak konsumsi.
• Menyalurkan pangan berlebih kepada yang membutuhkan.
• Memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan di Kukar.
Masalah yang Dihadapi
• 16% pangan masyarakat terbuang di meja makan.
• Hotel & restoran tidak sempat menyalurkan kelebihan makanan.
• Kekhawatiran soal keamanan pangan saat disalurkan.
Solusi: Pembentukan Bank Pangan
• Wadah koordinasi antara penyumbang pangan berlebih dan relawan penyalur.
• Pengumpulan & distribusi makanan dilakukan terstruktur.
Relawan yang Terlibat
• Kelompok Wanita Tani (KWT).
• Ikatan Remaja Masjid.
• Mahasiswa dan komunitas lokal.
• Mendapat pelatihan keamanan pangan: batas konsumsi, cara pengecekan, dll.
SOP Keamanan Pangan
• Contoh: makanan sarapan harus dikonsumsi maksimal pukul 15.00.
• Penggunaan kontainer makanan khusus untuk menjaga kualitas.
• Makanan berkuah atau mudah rusak tidak disalurkan.
Penyumbang yang Sudah Terlibat
• Hotel: Grand Elty, Grand Fatma.
• Restoran: Tepian Pandan, Ayam Banjar, Bebakaran.
• Dapur SPPG Panjaitan, Loa Lepu, Tenggarong Seberang (±3.000 porsi/hari).
Sasaran Penyaluran
• Panti asuhan.
• Pondok pesantren.
• Warga yang membutuhkan.
Manfaat Utama
• Mengurangi limbah pangan.
• Meningkatkan efisiensi distribusi makanan.
• Menambah nilai sosial bagi pelaku usaha.
• Mendukung ketahanan pangan daerah.

